Subscribe to Our Newsletter ! Free and No SPAM !

Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

logoblog




Yang terlihat pada pandanganmu ialah perhiasan
Kecuali yang mengikut pada kelalaian
Tidak dibenarkan engkau meremehkan sampah
Padahal sebelumnya ia berguna
Terapkanlah mata dan hatimu agar selaras
Apa yang terkandung di dalamnya mengandung hikmah yang besar

Rasa syukur di mulai dari segala sesuatu.
Disaat aku melihat orang lain menyakiti dirinya terang terangan
Apa yang dibenarkan oleh nafsu ini?
Tentu dia akan berkata, "Astagfirullah manusia yang lalai!"
Padahal jika dibalik akulah sebenarnya yang terbuai
Oleh kecantikan ibadahku.
Seakan akan apa yang kuperbuat selama ini adalah nyata...
Nyata dari pekerjaan diriku sendiri. Nyata aku akan mendapat ganjaran yang setimpal dan aku keliru. Benar benar keliru.

Kenapa kesempatan itu jarang sekali datang?
Kesempatan tuk mendoakan, mendoakan selain diriku agar berbuat taat ketika asik berpeluk erat dengan maksiat.

Bukan menyindir atau menjelekkan
Seharusnya bukan itu yang kupikirkan.
Aku tidak mampu.
Keburukan selalu menyertai diriku.
Dimana kuberada fitnah seperti mahluk tiga dimensi
Dimana ia memeluk tubuhmu ketika engkau melihat perbuatan orang lain meski hanya sekilas

Malam yang basah karna diguyur oleh hujan
Gemericik suara air berjatuhan
seorang tengah bersandar dibalik tembok yang kokoh
Ia menggenggam smartphone sambil mengumpat, matanya tidak lepas dari apa yang ia lihat, kemudian ia menulis sebuah kalimat,
"Ah bego lu njirr, susah ngomong sama cebong mah. Kaga bakalan ngerti,"
Begitu mudahnya memberi nilai pada orang yang jelas jelas tidak kita ketahui secara langsung.

Aku menemui seorang yang cukup sering melintas di jalan yang biasa aku lalui
kupikir ia orang yang tidak waras.
Aku segan tuk menghampirinya
Dan waktu berlalu, ku beranikan diri tuk menyapanya
Ternyata komunikasi nya baik dan nyambung,
"aku keliru," begitu batinku.
Pria itu menjelaskan ia memang biasa berpakaian sederhana, ia memakai apa yang ada walaupun banyak sobekan disana sini.
Wajar ia tidak memperdulikan keadaanya pakaiannya, ya karna ia bekerja sebagai pemulung. "Toh, nanti bakal kotor lagi," begitu lanjutnya.
Lalu Ia menunjukkan isi dalam ransel , "kecuali ini, saya usahakan tuk selalu terjaga kebersihannya."
Yang ternyata itu perangkat alat sholat.

Bagai dadu berputar
Seperti permainan lotre dimana angka yang keluar hanya tuk satu pemenang
Tetapi kemenangan yang ia hasilkan dari beberapa puluh kali percobaan.
Jika ia mencoba kembali, belum tentu hasil nya kan sama...
Rasa ingin menilai itu lebih besar dari percikan api.
Ia tak bisa padam hanya dengan air.
Yang mana air itu bagaikan sebuah ucapan kebaikan...

Hujan pun mulai reda.
Aku tak tahu cerita ini✍️ mau dibawa kemana.
Dan akupun berniat minum sejenak...🤞✌️

logoblog
Menghiraukan perkataan orang yang lebih tua.
Membenarkan perbuatan sendiri, walaupun tidak paham yang dilakukan.
Tuduhan seolah benar dan mereka salah.
Merasa marah pada sesuatu yang tidak sesuai.
Mencari cara agar bisa tetap pada pendirian.

Begitulah kau yang terduduk di tengah kebingungan.
Mengisap rokok tembakau menenangkan pikiran.
Berpikir sebentar dan berkata, "Apa maksud semua ini Tuhan?".

Menengadah ke langit dan termenung,
Seakan langit itu memanjakanmu.
Menatap indahnya cakrawala yang membuat batinmu sedikit tenang

Dan dirimu ingin naik.
Lihatlah ke atas, meski hanya pandangan yang melihatnya Itu sudah cukup.
Bila matamu enggan melihat ke atas,
Akan berada pada kesetaraan.
Maka, menataplah ke bawah.
Kau takkan pernah tahu rupa atau bentuk atau gambaran dari keinginannya...

Dirimu tidak lebih baik dari pada dewasa, hormati keberadaannya..
Dan jika kau dewasa pun belum tentu lebih baik dari remaja. Maka hargailah usahanya.


Di sebuah warung sederhana ada remaja membeli sebungkus rokok dan membayar dengan uang 100 ribu rupiah.
"Lama sekali ngitung kembalian doank!" Cetus batinnya.

Terlihat sosok dewasa. Pergerakannya lambat. Pemikirannya bagai orang yang melupakan diri sendiri.
Ia mencari dan memastikan uang yang dipegangnya, berapa dan berapa. Setelah yakin ia bergegas dan memberi uang itu pada remaja.
"Makasih ya, dek," katanya dengan lirih.

"Sama-sama!" Jawab remaja.
Wajahnya kesal. Lalu Ia pergi ke tujuan semula.
Diperjalanan batinnya berucap, "udah mahal lambat pula, nyesel gua beli disitu."

Perbedaan ucapan dari suasana yang tak menghormati atau menghargai itu sama saja, tak berbeda, buruk atau baik, jahat atau baik.
Dan mana yang paling benar? Entahlah.

Keburukan orang kau letakkan pada kebaikan, cahaya ketenangan datang menghampiri
Seperti dewasa dan remaja. Ada perbedaan....

Kau merasa benar itu tak baik kecuali kebenaran itu sudah menemanimu...















logoblog

Ku gak mau jadi pemenang, gak mau dibilang pemberani, gak mau mengacaukan teman-teman
Ku hanya ingin menumpahkan kata-kata lewat lagu/cerita
Jadi, fuck buat lo.
Tau apa kau tahu tentang diriku

Jangan pernah kau meremehkan orang yang cukup pendiam
Jangan juga berbicara tuh seenak jidat
Jangan hanya memandang sebelah mata
Kau tak pernah tahu apa yang pernah dilaluinya dulu mungkin begitu kelam,
Siapa sangka ketika siput dapat berjalan cepat
Kelinci kaget dan tampangnya memucat
Semua hal bisa terjadi.
Apa perlu kubilang sekali lagi dan teriak dari dekat
Tampang culun atau sangar bukan baiknya penentu
Semata-mata hanya nyali/kesadaran diri yang jadi pembeda antara orang itu payah atau pemberani
Orang bisa berubah setiap waktu
Jadi jangan asal bicara semaunya
Mulutmu bilang, “kau itu bangsat tolol juga keparat!”
Hei apa tak ada lagi kalimat yang membuatmu lebih jahat dari ucapatan tersebut
Itu sebenarnya cuma memperolok diri, supaya keliatan gak goblok ya tapi tetap saja goblok

Kalau mau jadi kriminal lebih baik menjadi mafia atau teroris yang mengancam dunia
Lalu, apa bedanya dengan kriminalitas kelas teri yang dipandang sebelah mata ,,
Tapi apa kau tahu apa maknanya dosa?
Sebenarnya membunuh itu hal yang gampang
Siapa saja bisa melakukan tanpa pernah melihat tampang, jenis kelamin dan lainnya.
Tapi orang yang paling kuat adalah dia yang mampu menahan amarahnya, menahan diri dari perbuatan keji,
Baik tingkah dan prilakunya, pandai mengendalikan emosi.

Memang, yang tampak buruk itu seringkali tampil keren
Bangga dan banyak yang menjadikannya trend
Ajang cari-cari bakat, apakah dia pelaksana maksiat
Semua pasti suka termasuk diriku yang berdosa
Dan, kini ingin kubernyanyi,

Oh… Tuhannnnnn..
Maafknlah aku cuma melakukannya sebentar
Oh… Tuhannnn…
Maafkanlah sekali lagi..
Masih tak mengerti ada apa dengan diri ini…



#Catatan: ini coretan lama dan beberapa kata diubah demi kenyamanan membaca. Satu lagi, sengaja ku posting supaya mengingatkan akan kesadaran diri




logoblog

Untuk “Tuan Benar dan Paling Terhormat”.
Apa kabar, Tuan?
Kuharap kau baik-baik saja, begitu baik sampai melupakan posisimu.
Kau merendahkan dengan caramu berperilaku
Mungkin kau pikir: “Aku ini adalah spesial dan juga tiada yang menandingi.”
Maaf sebelumnya, ini bukan menuduh melainkan membenarkan kesalahanmu.
Bisa saja kan disetiap harinya tak mampu menandingmu
Bisa saja kan disetiap hari, kau tahu, dirimulah yang paling benar dan juga paling mengetahui.
Tidak begitu kawan, silakan datang saja ke rumahku.
Tenang, ku kan menyambutmu.
Tidak seperti teman suruhanmu yang meludahiku beberapa waktu lalu?
Ya, ya! “Tuan Murka”
Jacketmu bagus, lain kali apa kau mau membawakannya untukku?

Jika kau membaca pesan ini tenang Tuan ini hanya bercanda, ini tidak begitu serius. Maka tenanglah!
Tapi, aku kurang yakin...
aa kau mau membaca pesan ini.
Kau kan terlalu sibuk tuk berdiskusi bersama orang spesial, kurasa mana sudi kau membaca pesan rendahan dariku.
Uh, maaf, sepertinya pendapatku benar. Buktinya kambuh lagi kenegatifanku.

Ahaha Oke-oke mulai sekarang aku lebih serius.
Kunjungilah rumahku.
Ku yakin kau pasti rindu teh hangat buatan istriku dengan tambahan Cinta darinya.
Ini Kabar Gembira Tuan.
Istriku tidak hamil. Jadi, kurasa kau cukup puas untuk bersama dengannya lagi. Nenikmati setiap detiknya.
Tapi ingat, ketika kau datang, aku berharap juga ada di sana. Agar bisa menatap kebahagiaan kalian berdua. Tidak seperti kemarin. kau tak memberi kabar.

Tenanglah Tuan, aku berjanji tak akan membunuhmu.
Tanganku kotor tuk merusak tubuhmu. Dan Aku hanya mengingat saja.
Mengingat untuk membuktikan bahwa kau salah dan
Istriku adalah kepunyaanku.
Jadi mulai sekarang kau harus tahu cara mainnya.
Apa yang bukan hakmu jangan pernah didekati. karna tanganku kotor tak perlu menyentuh hanya untuk merusak tubuhmu...
Seperti anjing peliharaanmu yang tewas terpenggal kemarin kan..
Tanganku tak berani menyentuhnya..


Sekian surat dariku yang kuberi judul "Kabar Gembira".


logoblog

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesaamaan nama, karakter, bisa dipastikan itu adalah kesengajaan.

TIGA PEMUDA & BAPAK KOS: REBORN

Oleh: Alfian Zidny

1 bulan berlalu ketiga pemuda dan pemilik kos kini merasa bosan tiap hari tidur di atas ranjang besi, tak ada hiburan seperti yang mereka lakukan  sebelumnya. Tak ada hubungan intim lagi. mereka dikurung dalam jeruji besi secara terpisah, dalam Ruang Gay A . begitulah Mereka menyebutnya.

Adrian mulai merindukan masa masa indah dalam hidupnya. di dalam khayalannya ia merasakan pantatnya di remas remas dengan tangan orang lain. Yang mana tangan itu adalah milik Jerry. Ahhhh, desah Adrian.

Pak Alfian setiap malam terus mengumpat, bermacam kata kasar terus terlontar dalam mulutnya. Mulai Seperti, Stupid madafaka, anjing berkepala satu, saus tartar, babi itu haram, dan sebagainya. Kadang juga ia menggengam jeruji besi yang menjaga dan memisahkan ia dari dunia luar. Seolah besi itu mampu ia remukan dan remas semudah ia mengocok penis ketiga anak muda.

Bustomi tengah terbaring, memiriingkan tubuhnya ke arah tembok. Tembok itu tampak lembab dan basah. Bustomi mulai mencium bau aneh..
"Bangsat, bau pesing! Anjirrr besok besok gua ga kencing disini lagi ah," ucap Bustomi

Jerry terus menetaskan air mata. Sepertinya ia menyesali perbuatannya. Perlahan ia bangun lalu berjalan berputar putar mengelilingi ruang tahanannya
"SAYA MAU NGESEKK SAMA ADRIANN!" teriak Jerry. "Ini semua gara- gara Pak Alfian, kalau bukan karna dia  ikut ikutan, mana mungkin kita bertiga ditangkap." Lanjutnya.

"So sweet!" Sahut adrian. dengan mengosok gosokan pantatnya di dinding,

Di hari sabtu yang cerah penuh dengan burung burung yang hinggap di atas pohon camar. Datang seorang wanita dengan penampilan yang seksi, wajahnya cantik dan begitu sensual. payuradanya terlihat berukuran 34B seperti mau menyembul dari pakaian yang ia kenakan.. Wanita itu bergegas dan menuju kantor Polisi KevinDzar.

Beberapa saat kemudian, Terdengar langkah kaki, lama lama terdengar begitu dekat. Pak Alfian tiba-tiba mendengar suara sesorang wanita.

"Papah"

Alfian pun menengok, dan ia pun kaget. ternnyata istrinya yang memanggil. dengan tatapan yang begitu merindukan dirinya..

"Ada apa kau datang kesini? Aku tak pantas. A.. aku tak pantas bertemu lagi denganmu!" ujar Alfian.

"Tapi pah! Aku ini istrimu. tak perduli apapun yang kau perbuat aku tetap milikmu!" Jawab sang istri.

"Aku hina buatmu.. Pergi" Ucap Alfian..

obrolan terhenti. Istri Alfian pun kaget mendengar kalimat yang terlontar dari suaminya sendiri. Baginya mendengar kata seperti itu adalah terlalu sangat kejam., dan juga egois. Baginya Alfian adalah segalanya. meski banyak para lelaki yang tergila gila dengan Ida (istri Alfian). namanya cinta, itu memang buta. Benar sekali kata seorang nasihat bijak dari pengelana terkenal yang berucap "Cinta penderitaanya tiada akhir."

"Tapi Aku ini GAY mah, aku ini GAY!" Lanjut Alfian.

"Pak Alfian, Anda terlalu tega mengatakan hal ini. Menurut Anda apa yang dilakukan istri Anda untuk datang kesini, jika bukan untuk bertemu dengan Anda dan juga membebaskan Anda., Istri Anda Rela menjual kos kosan milik Anda demi menebus sisa masa tahanan Anda.
Apa Anda Tahu? berapa biaya yang dikeluarkan?? Anda dengan Mudahnya berkata seperti itu. Tega sekali Anda." Ceramah Kevindzar yang ikut mengantar Bu Ida bertemu suaminya.

"Berisik lu tong!" Sahut Bustomi.

Alfian pun meneteskan air mata. Kata kata yang dituturkan oleh Kevindzar bergema di telinganya dan terasa bagai tamparan keras di pipinya, bagai seorang Ayah yang menasihati anak lelakinya yang tengah bermain boneka barbie
Bahwa itu tidak baik.

Kevindzar punl membuka kunci pintu dari besi yang mengurung Pak Alfian.

"Selamat pak Atas kebebasannya." Kata Kevindzar.

Alfian berlari mendekati istrinya dan memeluknya erat-erat.
"Maafkan ku, mah. Tak kusangka kau adalah bidadari yang diciptakan untukku." Izinkan aku menyetubuhi mu sepanjang malam, agar tidak ada sisa sisa gay dalam tubuhku ini, mah" Tukas Alfian..

"Iya pah, " kata Istrinya sambil ikut menangis..

Kini pasangan suami istri itu yang ganteng dan cantik kini telah pulang dan mereka berdua hidup bahagia selamanya. Selamanya, dengan status normal saling suka hubungan bukan sejenis.
Hanya tersisa 3 pemuda ini.
Malam terus berlalu. Bahkan kucing milik tetangga KevinDzar pun sudah mempunyai 9 anak. Entah dari mana ayah itu berasal. Mengingat kucing tetangga Pak Kevin ini seringkali dikurung tak boleh keluar rumah. Anehnya, kaki anak kucing itu hampir semuanya menyerupai tangan manusia.

Sebut saja namanya Andi ialah seorang anak pemilik kucing. Andi pun mengadukan keanehan ini kepada Ibunya, "Mah, mah," Sambil menarik tangan ibunya. Dengan agak malas ibu Andi mengiyakan. "Sini dah mah liat anak kucing kita, masa tangan sama kupingnya mirip manusia ya mah. Andi jadi bingung mah, Jangan-jangan papahnya manusia ya mah!" Tuduh Andi.

"Huss jangan ngawur kamu nak, bisa jadi ini sebuah miracle!" Jawab Ibu Andi.

Pemuda yang paling mendekati maco sebenanya adalah Jerry, namun siapa disangka ialah dalang di balik semua ini. Dalang dibalik kejadian yang tak diinginkan yang terjadi di kos kosan Pak Alfian. Jika tanpa keberanian Jerry mengajak Adrian berhubungan intim. Mustahil Bustomi ikut serta dalam acara pesta seks itu. Mustahil Pak Alfian juga ikut menjadi korban gara-gara hasil dari video yang ia rekam dan diputar terus berkali-kali.

Memang Naas, apel tidak jauh jatuh dari pohonnya. begitulah kejadian demi kejadian hidup ini berlangsung.

Seperti gay tidak jauh dengan Gay, Seperti Gay akan menghasilkan gay, gay akan bertemu gay, gay akan berhadapan dengan gay, gay akan melahirkan gay yang baru, dan seterusnya. begitulah hidup. seperti mempunyai daya tarik menarik.

Dan kini tiba saatnya dimana mereka bertiga Bustomi, Jerry Adrian, akhirnya terbebas dari kurungan penjara.  Terbebas dari khayalan belaka. Khayalan yang paling harus diterima oleh Adrian sebagai pemuda yang paling bernafsu di antara yang lain. Namun Adrian yang paling mempunyai sifat lemah lembut.

Dan hari pun sudah malam. Di sebuah jalan  ketika para pemuda itu tengah mencari tempat berteduh yang baru. Namun nasib buruk bagi mereka. tak ada biaya sama sekali untuk menyewa tempat berteduh.
Hujan mulai membasahi. membuat keadaan terasa lebih dingin.. membuat mereka jadi terangsang.
Dikatakannya oleh Adrian, "Jerry, A.. Anu.!"

"Apa Drian?" Tanya Jerry.

"Bagaimana kali ini kita melakukannya lebih aneh lagi!" Usul Adrian.

"Melakukannya bagaimana Adrian. Aku gak ngerti maksudmu," potong Bustomi.

"Itu loh, yang waktu itu kita melakukannya di kos-kosannya..." kata Adrian sambil menjulurkan lidahnya.

"Stop!!" Telunjuk Jerry menempel di bibir Adrian.

Wajah Adrian tampak memerah.

Sedangkan Bustomi pun hanya mengikut saja, seperti kerbau dicocok majikan.

Tanpa dikomando. Tiba tiba Jerry memanggalkan pakaian Adrian perlahan..
Ia mulai melepas baju Adrian, dan juga celana. Hanya tersisa KANCUT yang ia kenakan..

Bustomy yang melihat perlakuan romantis pada Jerry terhadap Adrian, ia pun ikut terangsang..
Tetapi ia tak hilang akal sehatnya. Ia pun punya usul, dan kemudian berkata, "Hai kalian, jangan lakukan di sini. Nanti kalau ada yang melihat kita bagaimana?" Coba kau lihat di sebelah sana ada semak semak, lebih baik kita kesana."

Akhirnya ronde demi ronde pun mereka lalui.
Ah ah ah, begitu banyak ungkapan kenikmatan yang keluar dari ketiga mulut pemuda itu.

Matahari muncul, menandakan siang telah tiba.
mereka tertidur pulas dengan masing-masing kepala menempel di atas paha teman bahkan pacarnya membentuk segitiga  dengan pantat dan tubuhnya menyentuh tanah.

Memang tidak mudah melepas jeratan dari kumpulan gay. bahkan Penjara pun tidak mampu membuat mereka jera. Bagi mereka Hukuman ibarat eksistensi. Yang wajib dilalui tanpa merasakan penyesalan...

Dan di sebuah tempat yang lain,  tepatnya di Komplek perumahan Harum Asri. Di belakang halaman rumah Ibu Andi, ada seorang pria sedang sibuk menyetubui betina yang tidak lain itu adalah kucing milik Andi.

"Aku mau keluar! Aku mau keluar!" begitulah ia terus meracau..

"CROOTT CROOTT!" air sperma keluar deras membasahi kemaluan si Kucing hingga masuk ke dalam rahimnya. Ketika pria itu mencapai klimaknya. Lalu ia mencabut kemaluannya dari lubang kemaluan sikucing. Si kucing pun tiba tiba jatuh terkulai lemas.

"Ah Indahnya hidup ini." Kata pria itu, yang sedari tadi sudah mengenakan seragam kepolisiannya. Bukti tak lama ia akan berangkat kerja..

Setelah puas dengan apa yang dilakukan, Pria itu berjalan keluar dan juga pamit kepada pemilik Rumah, "Selamat Pagi Bu Andi, Saya ijin berangkat kerja demi mengemban tugas negara." Begitu katanya.

"Terima kasih Pak Kevindzar, jika bukan karna bapak sebagai tetangga saya, pasti rumah saya setiap malam bakal di datangin maling kali pak hehe,"Canda ibu Andi.

"Ah ibu bisa aja," Sambil menepuk bahu Ibu Andi.

Pak Kevindzarpun pergi dengan membawa motor kesehariannya.

Bagaikan sebuah kamar yang diterangi lampu listrik. Ibu Andi mulai menyadari ada sesuatu yang aneh dari Pak Kevindzar, ia merasakan hal yang ganjal, sesuatu yang diluar nalar manusia.. Ibu Andi tampak begitu curiga, "Bagaimana bisa Pak Kevindzar tangannya dipenuhi bulu kucing?" bathinnya.
Dan pikiran baiknya mulai menerawang "Ah mungkin saja dia senang mengelus ngelus kucing peliharaan anakku, Andi."

SELESAII.

logoblog

Oleh: Alfian Zidny

Ketika umurku 9 tahun aku sering menemukan pertanyaan dalam diriku, seperti: bagaimana jika aku mati sekarang? Itu terjadi begitu saja hingga aku tak bisa mengartikan semua kata-kata yang bersemayam dalam pikiranku. Hanya bagaimana jika aku mati sekarang yang dapat kudengar secara jelas. Mungkin, karena waktu itu aku masih bocah, jadi tidak begitu peduli. Sampai saat ini suara itu cukup sering kudengar,  namun kali ini berbeda. Dia mengatakan: "Bunuhlah seluruh temanmu!"

Lantas aku tidak mengiyakan begitu saja... enak saja, memangnya temanku itu apa! Masa iya aku dengan mudah membunuh begitu saja.

Aku mendatangi seorang laki-laki bernama, Rusli. Dia ahli ilmu psikologi. Katanya aku hanya mengalami trauma masa kecil. Bisa dihilangkan jika aku tidak peduli atau penasaran lagi dari mana suara itu berasal. Aku juga ingat Pak Rusli bertanya padaku.

"Apa kau masih memiliki orang tua?"

Aku menjawab tidak. Dan ia masih terus berbicara perihal yang sama. Tetapi aku jujur.

Aku mulai bosan dengan ucapannya. Dalam hatiku ingin segera menyelesaikan diskusi ini. Lagipula aku sudah tidak memiliki kedua orang tua, aku sudah mandiri. Jadi buat apa semua hal yang ia pertanyakan. Aku kurang tahu, barangkali salah satu strategi Pak Rusli ketika menangani pasiennya.

Ketika selesai konsultasi, aku pamit lalu berjalan menuju pintu keluar. Sesaat kemudian dia menyarankan agar aku bisa datang ke tempatnya setiap hari senin dan kamis. Hari ini senin, jadi aku punya sisa waktu 3 hari untuk datang ke tempatnya lagi. Ketika aku membuka pintu.

"Ini pertemuan kita yang pertama. Aku harap perkembanganmu semakin bagus," katanya.

"Ya, baiklah," jawabku agak malas.

Satu hari kujalani tidak seperti biasanya hingga sampai ke hari rabu. Hari terburuk bagiku. Hari dimana aku mendapatkan kabar kalau orang yang kukenali tewas secara tragis. Aurel mantanku, ia tewas dalam keadaan tergantung di dalam kamar tidurnya. Posisi kedua kakinya terikat oleh tali. Sementara bagian anggota tubuh yang lain mulai dari pusar sampai kepala itu tidak ada, hilang, terpotong. Setelah hampir satu jam akhirnya polisi berhasil menemukan tubuh Aurel yang terpisah itu di dalam lemari es. Ketika aku bertanya kepada Polisi yang menyelidiki TKP, katanya ia belum bisa memberi keterangan lebih lanjut. Ia hanya berani menegaskan pelaku adalah psikopat. Namun, aku kurang puas dengan penjelasannya. Kemudian aku memakai nalarku sendiri.

Yeah, aku tahu. Aku kira Aurel dibunuh ketika ia terlelap dalam mimpi, lalu ia disekap oleh pelaku, kemudian tubuh Aurel dipotong dengan gergaji sebelum akhirnya mayatnya dipisahkan; diikat di kamar tidur; disimpan di dalam lemari es. Tapi siapa ya kira-kira pembunuhnya? Pikiranku pun mulai menjalar ke mana-mana.

Yeah, aku tahu. Mungkin pelaku itu ialah saudaranya sendiri, Adi, karena ia bisa dengan mudahnya keluar masuk rumah Aurel, tetapi apa benar, motif yang melandaskan Adi membunuh Aurel juga tidak ada? Apa karena sebelumnya mereka bertengkar?

Belum sempat aku berpikir kembali, tiba-tiba ada seorang polisi yang baru kulihat wajahnya--entah dari mana dia datang--untuk meminta izin melapor kepada rekannya yang sejak awal sudah ada di TKP. Polisi itu menuturkan bahwa Adi tewas yang mana adalah saudara kandung Aurel dalam keadaan menempel di pohon rambutan, dengan  membentuk salib. Seluruh tubuhnya tertancap paku serta dipenuhi darah yang telah mengering. Baru diketahui setelah ada tetangga Adi yang berani melaporkan kepada polisi. Itu juga berkat anjing milik tetangga yang terus menggonggong sepanjang malam. Hanya saja si tetangga semalam tidak berani keluar rumah, ditambah situasi yang mati listrik. Akhirnya setelah menjelang pagi, ketika dirasa situasi memungkinkan, barulah si tetangga melapor ke polisi.

Mendengar penuturan Pak Polisi aku cuma manggut-manggut, tanda mengerti.

Ah, parah. . . aku benar-benar tak menduga kenapa semua ini bisa terjadi. Seperti sudah direncanakan. Aku kira Adi pelakunya, ternyata ia ikut menjadi korbannya, pikirku demikian.

Ah sial. . . Lalu aku meninju tembok sekeras-kerasnya, ku tak peduli walau kulitku terkelupas dan menjadi lecet.

"Saudara Fahmi, sebaiknya Anda istirahat saja di rumah. Tenangkan pikiran Anda dan Anda juga harus bersabar. Biarkan kami yang mengurus ini semua," kata Pak Polisi menyarankanku.

Seperti dihipnotis aku lalu menurut.

Kemudian aku pun diantarkan sampai ke depan rumahku.

Kemudian aku menyusuri kamar tidurku. Lalu aku langsung rebahan di atas kasur. Beberapa saat aku pun terlelap.

Kring Kriing!!

Panggilan telepon menyadarkanku. Kemudian dengan mata yang masih terpejam aku meraba-raba meja. Mencari handphone yang kuletakkan di atasnya. Setelah ketemu, langsung kuangkat telepon dengan mata tetap terpejam tanpa mengubah posisi awal badanku yang tengah bersandar di atas kasur.

"Kenapa kau belum datang kesini?" kata suara laki-laki dari seberang sana.

"Oh, Pak Rusli. . . ini masih malam," jawabku.

"Hei, ini sudah siang, sudah hampir jam 1."

"Apa??"

"Sekarang Kamis, apa kau lupa?"

Aku tercenung. Aku kira masih malam, ternyata sudah siang. Huh, entahlah, waktu memang begitu cepat berlalu, mulai dari pembunuhan orangtuaku ketika aku masih bocah, dan kemarin orang yang pernah kucintai mati begitu saja dan juga saudaranya, Adi.

Ya, pada kenyataannya aku tidak boleh mengeluh, karena inilah hidup. Semua hal buruk yang telah terjadi tak perlu disesali apalagi ditangisi.

"Hei!!" Teriakkan Pak Rusli menyadarkanku.

"Oh, iya-iya. . . maafkan aku, Pak. Semalam tidur kebablasan. Tubuhku lelah sekali. Untungnya ada panggilan dari Bapak yang menyadarkanku."

Kemudian dengan bergegas aku pergi ke tempat kediaman Pak Rusli.

Sesampai di sana aku berniat mendiskusikan dan berkonsultasi lagi padanya. Dan kami pun saling duduk berhadapan.

"Pak, kemarin. . .," kataku pelan. "Suara itu datang lagi."

"Lalu, apa kau menentang suara itu?"

"Tidak, Pak. Malahan aku menerima ajakkan suara itu. Suara itu juga yang telah membunuh mantan pacarku beserta saudaranya."

Pak Rusli mengangguk seraya melipat kedua tangannya.

"Bagus-bagus, dengan begini kau sudah ada perkembangan. Seiring waktu maka trauma masa kecilmu akan pudar perlahan-lahan," ujarnya.

"Sekarang bagaimana lagi, Pak. Apa aku perlu menuruti semua ajakkannya?"

"Tentu."

"Terima kasih, Pak."


Sumber gambar: ustadchandra. wordpress. com